Pangan Untuk Anak Yatim Yogyakarta
Siapapun tamu yang datang ke panti, anak-anak pasti rebutan minta dipeluk, dibacakan dongeng, dan digendong. Kadang sampai nangis sambil teriak AYAH…IBU…sedih banget dengernya, tapi saya gak boleh nunjukin itu..” ucap salah satu pengurus panti.

Sedih rasanya mendengar kisah 11 anak-anak terlantar yang tak lagi punya orang tua dalam hidup mereka. Terlunta-lunta tak punya hidup yang layak. Makan seadanya dengan nasi dan kuah sayur tanpa pernah mengeluh sedikit pun.

Di bawah naungan Yayasan Madania, Panti Asuhan Balita Madania bukan hanya sekadar tempat tinggal bagi mereka, tetapi sebuah keluarga yang memberikan kasih sayang dan pendidikan. Namun, semakin lama, banyak donatur mundur yang membuat kondisi panti memprihatinkan.
Hidup anak-anak bergantung pada uluran tangan para tamu dermawan yang berkunjung ke panti. Bisa dibilang, bantuan hanya datang sesekali dan tidak pasti.

Sedangkan, setiap bulan biaya operasional terus membengkak. Pemilik panti harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk membeli susu, pampers, MPASI, lauk pauk, hingga biaya pendidikan anak-anak asuhnya.
Belum lagi fasilitas panti yang sangat terbatas, seperti kasur dan kamar. Sampai saat ini mereka tidur hanya menggunakan 2 tikar tipis. Itupun tidurnya di ruangan terbuka karena belum ada biaya untuk membangun kamar.

Pengurus panti tidak tahu harus mencari pertolongan kemana lagi. Mereka sudah berusaha untuk mencari pinjaman atau membuka galang dana. Namun uang yang terkumpul tak cukup untuk biaya 1 bulan. Jika kondisi ini terus berlanjut, bagaimana nasib mereka? Haruskah mereka kembali terlantar lagi?